Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku dibesarkan di dalam keluarga Kristen. Namun, ternyata itu tidak menjamin kehidupan rohani dan hubunganku dengan Tuhan bisa berjalan dengan baik. Sedari kecil aku telah terbiasa hidup dalam ketegangan di dalam keluarga. Ayah ibuku kerap kali bertengkar di hadapanku. Bahkan, mereka berdua hampir mengambil keputusan untuk bercerai. Hal itu membuatku frustrasi. Jika berada di luar rumah, keluarga kami tampak sangat harmonis dan tidak ada masalah. Namun, hal ini jelas berbeda dengan apa yang aku rasakan ketika berada di dalam rumah. Aku pun tumbuh menjadi seorang anak yang kekurangan figur dan teladan orang tua, khususnya figur seorang ayah. Meskipun aku terluka dan kecewa, aku hanya dapat menyembunyikan rasa luka dan kecewa itu di dalam hatiku. Menginjak usia remaja, saat duduk di bangku SMP, aku menghabiskan waktu hidupku untuk mencari jati diri. Karena terpengaruh oleh teman-teman pergaulan, aku pun ingin sekali mencoba melakukan hal-hal baru yang menantang. Rasa penasaranku terhadap pergaulan bebas yang aku lihat di lingkunganku serasa menarikku untuk ikut masuk ke dalamnya. Mulai dari tahun 2005-2008 aku terjebak dalam pola pikir yang salah dan hidup hanya untuk bersenang-senang. Bagiku, hidupku hanyalah milikku sendiri. Meskipun aku sering bergereja dan mengikuti kegiatan-kegiatan gereja, aku sama sekali tidak ingin merubah kebiasaan burukku itu. Di usia yang terbilang sangat muda, aku sudah terikat dengan seks bebas dan pornografi, minuman keras, klub malam, merokok, bahkan narkoba! Semua itu aku lakukan untuk mengisi kekosongan di dalam batinku. Pergaulan bebas menjadi hal yang lumrah bagiku.
Namun, Tuhan memang sungguh baik. PertolonganNya tepat pada waktunya. Ia tidak pernah membiarkan anakNya jatuh tergeletak. Pada tahun 2008, saat aku sendirian di kamar apartemenku, entah mengapa waktu itu aku ingin memutar lagu rohani yang berjudul "Seperti Bapa Sayang AnakNya". Tanpa disangka, lagu itu sangat menyentuh hatiku. Saat itu juga aku merasa Roh Kudus menjamah hatiku. Hari itu aku betul-betul merasa mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Aku pun tersungkur dan menangis menyadari semua kesalahan dan dosa-dosa yang telah aku perbuat dan mohon ampun di hadapan Tuhan. Kemudian, Tuhan menggerakkanku untuk membuka Alkitab di dalam Yer 1:5. Sejak saat itu, aku percaya bahwa ada Pribadi yang mengasihiku lebih dari apa pun, yaitu Tuhan Yesus. Aku yakin Ia ingin memakai hidupku sebagai alat kerajaanNya. Yesus membuatku memiliki arah untuk melangkah di jalan kehidupan menuju masa depan yang penuh harapan. Hari itu juga aku menyerahkan hidupku ke dalam tangan Tuhan dan berkomitmen untuk menghabiskan masa mudaku untuk melayani, serta memenangkan jiwa anak-anak muda yang dahulu seperti diriku. Seperti kerinduanku di tahun 2008, hingga saat ini aku masih melayani Tuhan bagi anak muda, menjadi teladan rohani bagi generasi muda. Tuhan percayakan banyak sekali kesempatan untuk aku dapat melayaniNya. Tuhan betul-betul membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan yang menepati janjiNya. Jika dahulu prinsipku adalah "bersenang-senang", kini prinsipku "hidup adalah Kristus dan terus berbuah untuk kemuliaan Tuhan". Dengan memegang prinsip itu, aku menjadi kuat untuk terus mengiring Tuhan Yesus dan melayaniNya, sekalipun tantangan dan masalah menghadang. Kiranya kesaksianku ini menjadi berkat bagi para pembaca ManSor. Tuhan Yesus memberkati.
back
Best viewed in Mozilla Firefox 3 or greater


Typologi Jilid 2
Buku Keluarga Kristen
banner4
jwj
whay
jsj
Buku Keuangan
banner 3