Amsal 19:22; Mazmur 25:21 Setiap orang mempunyai kenangan masa kecil dengan sahabat-sahabatnya. Saya sendiri mempunyai banyak sahabat ketika masih kecil. Waktu itu saya tidak terikat dengan satu sahabat saja, maklum anak-anak senang bermain ramai-ramai. Namun ketika duduk di bangku SMP, saya memiliki seorang sahabat yang dekat, Sartin namanya. Kami berbagi dalam banyak hal, saya selalu membawakan kue-kue untuk kami makan berdua ketika istirahat. Dia pun demikian, ia selalu membagikan sesuatu kepada saya. Kami saling bercerita tentang banyak hal, termasuk teman pria yang kami kagumi masing-masing. Saya ingat saat itu kami tidak pernah berlaku tidak setia satu dengan yang lain. Kami memegang rahasia masing-masing dan tidak pernah berpura-pura satu kepada yang lain. Sungguh sebuah persahabatan yang tulus. Ketika dewasa dan menikah, saya tetap memiliki beberapa sahabat dekat. Kami saling berbagi cerita, bahkan saling mendoakan. Saya mengasihi sahabat-sahabat saya dan sedapat mungkin berlaku setia kepada mereka. Suatu hari saya mendengar dari seseorang bahwa salah satu sahabat saya menceritakan yang buruk mengenai suami saya. Sesuatu yang menurut saya tidak perlu diceritakan. Saat mendengar berita itu, saya sangat terluka. Entah apa motivasinya sehingga ia melakukan hal tersebut. Hati saya menangis. Saya kecewa karena selama ini saya sudah menganggap dia dan suaminya sebagai saudara. Saya tidak pernah menceritakan kelemahan suaminya walaupun saya tahu banyak mengenai hal itu. Tetapi mengapa ia melakukan itu terhadap saya? Di depan saya ia bersikap sangat manis, tetapi di belakang saya tidak demikian. Saat itu saya merasakan betapa sakitnya ketika kesetiaan persahabatan dinodai, seperti apa yang dikatakan di dalam Mzm 55:13-15, Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku: kami yang bersama-sama bergaul dengan baik, dan masuk rumah Allah di tengah-tengah keramaian. Kesetiaan dan kejujuran merupakan tiang penyangga terkuat yang dibutuhkan untuk membangun sebuah persahabatan. Kesetiaan berarti tidak mudah meninggalkan atau mengkhianati sahabat kita, apalagi ketika ia dalam kondisi yang sulit. Karena itu janganlah membangun persahabatan atas dasar untung rugi. Ketika sahabat kita bisa memberikan keuntungan, maka kita setia kepadanya. Tetapi ketika ia berada dalam situasi yang sulit, kita meninggalkan dia. Lain lagi dengan kejujuran, kejujuran adalah berkata yang benar mengenai sahabat kita terhadap orang lain, dan juga terhadap sahabat itu sendiri. Katakan yang sebenarnya, jangan lain di mulut lain di hati. Bangunlah kesetiaan dan kejujuran dalam segala hal, karena Tuhan menghendaki kita berlaku demikian. DOA Tuhan, terima kasih untuk teman-teman yang Engkau berikan. Aku berdoa agar kami menjunjung tinggi kesetiaan dan kejujuran. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
back
Best viewed in Mozilla Firefox 3 or greater


banner 3
jwj
Buku Keluarga Kristen
Typologi Jilid 2
banner4
Buku Keuangan
jsj
whay