Efesus 4:32; Kolose 3:13
Catherine Pandjaitan merupakan putri sulung Pahlawan Revolusi Mayor Jenderal Donald Issac Pandjaitan. D.I. Pandjaitan, bersama enam perwira TNI lainnya dibunuh oleh gerombolan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965 dan jasadnya dibuang di Lubang Buaya, Jakarta. Pembunuhan ayahnya itu menimbulkan trauma yang mendalam bagi Catherine, karena ayahnya ditembak mati persis di depan matanya. Waktu itu usia Catherine masih 18 tahun. Peristiwa itu begitu menyakitkan baginya dan meninggalkan kenangan buruk dalam hidupnya selama puluhan tahun. Setahun pertama sejak kematian ayahnya, Catherine hanya bisa menangis dan marah, ia sangat sakit hati. Dan rasa marah, sedih, dan sesal menjadi kehidupan sehari-harinya selama puluhan tahun. Apalagi ia tinggal di rumah di mana ayahnya ditembak, sehingga setiap kali lewat di tempat ayahnya ditembak, ia selalu ingat peristiwa penembakan tersebut.
Khawatir kejiwaannya sampai rusak, dokter menyarankan agar keluarga Catherine pindah dari rumah mereka, sehingga Catherine bisa melupakan trauma yang dialaminya. Namun ibu Catherine menolak, karena mereka baru pindah ke rumah tersebut, rumah itu baru dibangun setelah mereka pulang dari Eropa, di mana ayahnya ditugaskan. Akhirnya, Catherine dititipkan pada anggota keluarganya, Umaryadi, saat ia dikirim ke Swiss sebagai Duta Besar Indonesia. Selama bertahun-tahun Catherine ada di Eropa. Di sana ia melanjutkan pendidikannya, memasuki beberapa sekolah, sekolah komputer, kecantikan, dlsb, tetapi tidak pernah selesai. Ia seperti kapal yang terombang-ambing. Lalu ia bertemu dengan B.J. Habibie, mantan Presiden RI, yang sejak kecil dikenalnya, "curhat" kepadanya tentang pahitnya hidup yang dihadapinya dan keinginannya untuk keliling dunia. Karena Habibie tahu Catherine pintar bahasa, ia menyarankannya untuk menjadi pramugari. Ia pun menjadi pramugari selama lima tahun. Namun hidupnya tidak pernah berubah, ia masih merasa pahit.
Setelah menikah dan punya anak satu, ia bertemu dengan seorang pendeta. Dia cerita kepada pendeta tersebut tentang keadaannya. Pendeta tersebut berkata, "Coba kita ibadah." Meski sempat ragu, Catherine menurutinya, karena ia melihat pendeta itu lain daripada yang lain. Lalu pendeta itu memberi Catherine ayat Alkitab. Ayat itu langsung mengena kepadanya. Dia terpaku. Sejak itu dia tekun ibadah selama 30 tahun, tiga kali seminggu. Ia pun memilih untuk memaafkan para pelaku pembunuh ayahnya. "Yang penting itu, kita bisa memaafkan. Memang susah dahulu, tetapi saya saja dimaafkan sama Tuhan. Padahal siapa saya?" kata Catherine. Kini Catherine sudah berusia 70 tahun dan hidup lebih bahagia.
Pengampunan adalah kunci pemulihan, kebahagiaan, dan kemenangan atas masa lalu. Melalui pengampunan kita bisa menatap masa depan yang lebih baik. Mintalah kekuatan kepada Tuhan agar kita dimampukanNya untuk mengampuni orang lain.
DOA
Bapa sorgawi, beri aku kekuatan untuk mengampuni orang yang menyakitiku, karena Engkau telah terlebih dahulu mengampuniku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
back
Best viewed in Mozilla Firefox 3 or greater


Buku Keuangan
Typologi Jilid 2
Buku Keluarga Kristen
banner4
banner 3
whay
jsj
jwj