Filipi 2:5-11
Seorang pria Iran bernama Balal, 7 tahun lalu menikam seorang pria bernama Abdollah Hosseinzadeh yang berusia 18 tahun, dalam sebuah perkelahian, hingga akhirnya Balal harus menerima vonis hukuman gantung. Dan bulan April 2014 lalu, Balal bersiap menjalani hukuman gantung tersebut. Ia berdiri di kursi dengan mata tertutup kain dan leher dikalungi tali. Keluarga korban pun diperbolehkan untuk mengambil bagian di dalam eksekusi, termasuk jika mereka menginginkan sebagai eksekutornya.
Sebuah momen dramatis terjadi di sekitar tiang gantungan. Orang tua korban yang memiliki kesempatan untuk menendang kursi, agar si pelaku tergantung, justru memberi pengampunan kepada orang yang telah membunuh anak mereka, dalam beberapa detik sebelum petugas memberikan aba-aba eksekusi. Ibu korban hanya menampar wajah pembunuh anaknya sambil menangis, kemudian melepas tali dari leher Balal. Banyak orang yang saat itu hadir untuk melihat proses eksekusi tersebut, terkejut. Dan suasana lokasi eksekusi saat itu menjadi haru, bahkan banyak yang meneteskan air mata. Terlebih lagi, ketika ibu Balal mendatangi ibu korban yang memberi pengampunan kepada anaknya itu, lalu memeluknya erat sambil menangis. Setelah kejadian itu, seorang wartawan yang meliput proses eksekusi, bertanya kepada ayah korban, mengapa hal itu bisa terjadi. Dan ia menjawab, "Tiga hari lalu, istri saya bermimpi bertemu Abdollah. Dalam mimpinya, anak kami mengatakan dirinya telah berada di tempat yang baik. Dan baginya tidak perlu untuk membalas." Sekalipun berdasarkan mimpi, tetapi dalam kisah ini, kita melihat bahwa orang tua Abdollah tidak mementingkan ego mereka untuk membalas dendam yang sudah mereka tahan selama kurang lebih 7 tahun. Bagi mereka, cukuplah 7 tahun Balal mendapat kurungan penjara. Karena mereka merasakan apa yang akan dirasakan oleh ibunya jika kehilangan Balal.
Hal ini serupa dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus bagi kita manusia. Dia tahu bahwa kita ini adalah orang-orang yang hina karena dosa. Sesungguhnya kita pantas dihukum, tetapi Ia memberikan kita pengampunan dengan merendahkan diriNya yang agung itu menjadi serupa dengan kita, namun Ia tidak berdosa seperti kita. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang egois, Ia tidak ingin membalas kita. Tuhan telah mengampuni kita! Sebagai bentuk terima kasih kita kepadaNya, sudahkah kita memberikan waktu kita untuk Dia? Setidaknya, dalam 24 jam yang tersedia dalam sehari, kita memberikan waktu kita sejenak untuk bersekutu menikmati kehadiranNya di dalam diri kita. Jangan memberikan waktu kita yang tersisa buat Tuhan, tetapi sisihkanlah waktu kita buat Dia. Jangan hanya memikirkan apa yang kita mau dalam hidup ini, tetapi pikirkanlah juga apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita.
DOA
Tuhan, aku mau belajar untuk mengampuni orang yang bersalah kepadaku dan memberikan yang terbaik bagiMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
back
Best viewed in Mozilla Firefox 3 or greater


Buku Keluarga Kristen
Buku Keuangan
jsj
Typologi Jilid 2
whay
banner 3
jwj
banner4