welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Ayah, Kita Putus!

Keluaran 17:2-3; Mazmur 78:36-42

Adella dan ayahnya pergi ke sebuah toko mainan anak-anak untuk membeli kado ulang tahun buat teman Adella. Saat ayahnya sedang mencari kado, Adella berjalan keliling toko untuk melihat-lihat mainan. Langkahnya terhenti saat matanya melihat sepasang mainan kuda yang bernama My Little Pony. Matanya berbinar-binar saat melihat mainan itu dan ia langsung mengambil dan memeluknya dengan erat. Adella meminta supaya ayahnya membelikan My Little Pony untuknya. Ayahnya menolak, sehingga Adella terus mendesaknya, tetapi permintaannya tidak digubris. Setelah selesai membayar kado, ayahnya mengajak pulang namun Adella menolak. "Aku tidak bisa pulang tanpa My Little Pony, Ayah," rengeknya. "Bagaimana jika Ayah tidak membelinya hari ini?" tanya ayahnya. "Kalau Ayah tak membelikan My Little Pony hari ini, maka aku juga tak akan bisa lagi mencintaimu Ayah, aku hanya akan mencintai Ibu," ancamnya. Melihat tingkah Adella yang lucu itu membuat ayahnya semakin menggodanya. "Wah, apa hanya karena Ayah tak membelikanmu My Little Pony, kau tak mencintaiku lagi?" tanya ayahnya. Dengan suara yang tegas Adella menjawab, "Aku hanya akan mencintai Ibu!"
Di tempat lain, para pendemo melakukan mogok kerja bila permintaan mereka tidak dikabulkan, karena hubungan mereka dengan atasannya hanya sebatas karyawan dan pimpinan, tidak dalam hubungan kekeluargaan. Dan itulah manusia! Ketika permintaan kita belum terpenuhi, sering kali kita melakukan demo dan mengajukan ancaman kepada Tuhan. Kita menjadikanNya tempat di saat kita membutuhkan. Kita menganggapNya hanya sebagai tempat untuk memuaskan keinginan kita saja. Tuhan diperlakukan seperti para gadis yang memperlakukan pacar mereka, "Ada uang Abang disayang, tak ada uang Abang ditendang."
Apakah cinta kasih kita kepada Tuhan hanya sebatas materi? Bangsa Israel selalu marah kepada Tuhan bila mereka kehabisan makanan, minuman, dan tertimpa masalah lain. Padahal mereka sudah melihat dan merasakan penyertaan Tuhan yang dahsyat. Tetapi, mereka masih juga belum memahami maksud Tuhan. Sikap yang demikian mencerminkan ketidakdewasaan di dalam Tuhan. Kita berpikir bahwa kita adalah anak-anakNya, kita adalah ahli waris Kerajaan Sorga, namun kita hampir tidak pernah berusaha untuk memahami kehendak Tuhan. Kita justru memaksa Tuhan supaya mengerti keinginan hati kita, seolah-olah Dia adalah Tuhan yang tidak memahami kebutuhan anak-anakNya. Kita tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan alasan Tuhan mengapa permintaan kita tidak dikabulkan, malah dengan gencarnya kita melayangkan ancaman demi ancaman. Tuhan bukan Pribadi yang pelit sehingga setiap permintaan kita tidak dikabulkan. Dia bukanlah Pribadi yang perhitungan dan takut rugi sehingga keinginan kita tidak dipenuhi. Jauhkan sikap yang selalu mengancam, ingin dimengerti oleh Tuhan, dan egois. Berusahalah untuk memahami kehendakNya.
 
DOA
Bapa, jadikan aku anakMu yang dewasa di dalam imanku kepadaMu dan dapat memahami kehendakMu, ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here