welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Kasih Dan Kesetiaan

Kasih Dan Kesetiaan

Amsal 3:3-4

 

Penulis Kitab Amsal menulis, "Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia." Ada janji indah diberikan dalam ayat ini, yakni mendapatkan kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. Tetapi ada kewajiban yang harus dipenuhi sebagai syarat untuk mendapatkan janji tersebut, yaitu harus memegang erat-erat kasih setia. Kepada siapa dan apa kesetiaan ini harus kita tujukan?
Pertama, kesetiaan untuk tetap percaya kepada Tuhan. Pew Research Center menemukan fakta bahwa jumlah ateis di Amerika Serikat meningkat dalam 10 tahun terakhir. Lembaga ini melakukan survei melalui telepon pada 2018 dan 2019 dan hasilnya terdapat empat persen orang dewasa ateis di Amerika. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan 10 tahun lalu yang hanya dua persen. Tak hanya ateis, orang Amerika Serikat yang mengaku agnostic juga meningkat. Salah satu alasan mereka tidak beragama adalah: organisasi keagamaan tertentu lebih fokus kepada uang dan kuasa, terlalu fokus kepada peraturan dan permainan politik. Faktor lain yang menjadi tantangan untuk setia kepada Tuhan adalah di saat menderita sakit, kedukaan, terkena musibah, kesulitan-kesulitan hidup, dll. Terkadang dalam situasi-situasi yang tidak menyenangkan tersebut kita salah dalam memberi tanggapan terhadap Tuhan yaitu dengan meragukan kemahakuasaanNya, meragukan kasihNya, meragukan keadilanNya. Kita harus tetap setia kepada Tuhan dalam segala keadaan. Ingatkah kita kepada tokoh yang bernama Polikarpus, yang hidup pada tahun 69-155 M? Dialah pemimpin gereja di Smirna, murid dari Rasul Yohanes. Menurut tradisi Polikarpus mati sebagai martir dengan cara diikat dan dibakar pada sebuah tiang. namun akhirnya mati ditikam karena kobaran api tersebut tidak bisa menyentuh dirinya. Ungkapannya yang terkenal, "Aku telah melayani Kristusku 86 tahun lamanya, namun belum pernah sekalipun Ia berbuat jahat kepadaku. Bagaimana aku dapat mengutuk Kristusku, Juruselamatku?"
Kedua, kesetiaan untuk menjalankan panggilan Tuhan di dalam hidup kita. Setia dalam panggilan kita adalah hal yang sangat penting. Kita bisa mencontoh kesetiaan Maria terhadap panggilan hidupnya untuk menjadi ibu dari Sang Mesias. Banyak halangan, rintangan, bahkan ancaman hukuman rajam karena dianggap berzina, tetapi Maria dengan mantap berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Ketiga, kesetiaan kepada komitmen kita terhadap pasangan hidup. Bagi kita yang sudah menikah, jangan biarkan ada celah untuk benih-benih perselingkuhan tumbuh. Setialah terhadap pasangan kita. Mari kita hidup dalam kasih setia, sehingga kita mendapatkan penghargaan di mata Tuhan dan manusia.

DOA
Bapa, aku ingin hidup dalam kasih dan kesetiaan, sehingga aku mendapatkan penghargaan di hadapanMu. Mampukan aku ya Bapa. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here