Yohanes 18:1-5 Siang itu Daniel masih main ke rumah. Sebagaimana biasa, kami bercerita pengalaman masing-masing. Daniel menceritakan masalah yang terjadi antara dia dengan seorang pelayan Tuhan. Atas permintaannya, aku memberikan pendapatku yang bermaksud untuk menghibur dan memberi jalan keluar baginya. Aku percaya kepadanya karena dia mengaku sebagai sahabatku. Tetapi, dua hari kemudian aku mendengar berita yang cukup menyesakkan dada. Seseorang menceritakan kepadaku apa yang dikatakan Daniel, yang intinya dia tidak setuju dengan pendapatku. Dia berkata bahwa aku telah menjelek-jelekkan pelayan Tuhan tersebut. Mengapa tidak dikatakan waktu itu? Mengapa dia berpendapat bahwa aku menjelek-jelekkan pelayan Tuhan itu? Bukankah itu hanya pendapatku dan tidak ada indikasi menjelek-jelekkan pelayan Tuhan itu? demikian berkecamuk pertanyaan-pertanyaan di dalam hatiku. Sejak saat itu, aku tidak percaya lagi kepadanya, sebab dia bukan sahabat yang sesungguhnya bagiku. Seorang sahabat adalah seorang yang bisa dipercaya. Di dalam diri seorang sahabat tidak ada keinginan dan tindakan sedikit pun untuk berkhianat. Seorang sahabat adalah tempat di mana seseorang bisa terbuka untuk menceritakan masalahnya. Lebih daripada itu, orang tersebut tidak akan khawatir kalau-kalau masalahnya bocor ke mana-mana. Seorang sahabat juga tidak akan membuat sahabatnya celaka. Kita tidak menemukan ciri-ciri ini di dalam diri Yudas Iskariot. Tiga tahun lebih dia bersama-sama dengan Yesus. Makan dan minum bersama dengan makanan dan minuman yang sama pula. Meletakkan kepala untuk tidur pun di tempat yang sama. Tentu saja Yudas sudah mendengar semua unek-unek Yesus. Dia mendengar ketidakcocokan Yesus dengan pandangan dan cara hidup orang Farisi dan para ahli Taurat. Bahkan, Yesus sudah memercayakan masalah keuangan kepadanya. Namun, apa yang terjadi di akhir perjalanan hidup Yesus di dunia? Yudas Iskariotlah yang berkhianat. Dia menghancurkan kepercayaan Yesus. Dia berpihak kepada musuh-musuh Yesus. Sungguh tragis, uang dan ambisi telah membuat Yudas mengkhianati Yesus, Pribadi yang telah sudi menjadi sahabatnya. Adakalanya seseorang kurang berhati-hati yang pada akhirnya mengkhianati kepercayaan sahabatnya. Dia berkata kepada seseorang, Ini hanya saya ceritakan kepadamu ya. Kemudian, kepada yang lain, dia berkata, Ini hanya untuk Bapak ya. Kepada yang lain lagi, dia berkata, Jangan cerita siapa-siapa ya, dan seterusnya. Inilah contoh orang yang tidak bisa dipercaya. Bukan hanya masalah rahasia sahabatnya, tetapi juga masalah harta benda atau pekerjaan. Seseorang yang disebut sahabat akan menjaga dan melakukan dengan benar apa yang dipercayakan sahabatnya. Mari bersikap sebagai seorang sahabat sejati. Jangan membuat sahabat kita hilang kepercayaannya kepada kita
back
Best viewed in Mozilla Firefox 3 or greater


banner4
whay
jsj
Buku Keluarga Kristen
Typologi Jilid 2
Buku Keuangan
jwj
banner 3