welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Katakan Apa Adanya

Amsal 27:5-6 Waktu itu aku diajak temanku untuk makan soto di warung yang cukup terkenal di sekitar kampusku. Tentu tidak kutolak tawaran tersebut. Setelah selesai makan, temanku berkata, Sepertinya gaya bicaramu dan sikapmu beberapa minggu ini tidak benar. Kamu tidak sadar bahwa kamu sudah membuat banyak orang sakit hati. Aku juga tidak senang dengan gayamu itu. Perkataan itu membuat mukaku langsung memerah, karena selama ini dia tidak pernah berkata seperti itu. Dalam hati aku berkata, Kamu buat aku kenyang dulu baru kemudian kamu tusuk. Kemudian kami pulang ke asrama dengan sedikit diam-diaman. Awalnya aku tidak bisa terima perkataan itu, tetapi lambat laun aku mulai memahaminya. Seorang dosen berkata, Untung masih ada yang menegur kamu. Itu artinya masih ada yang menyayangimu. Salah satu alasan mengapa orang tidak mau menegur sahabatnya atau mengatakan apa yang sebenarnya adalah untuk menjaga hubungan supaya tetap langgeng. Dia tidak ingin sahabatnya marah, lalu benci, dendam, atau akan memutuskan persahabatan mereka. Sangat masuk akal, tetapi tidak benar. Justru, orang yang menyebut diri sebagai sahabat, dia seharusnya yang pertama kali menegur sahabatnya yang berbuat salah. Tindakan ini tentu mengandung risiko. Paulus pun menyadari akan risiko itu, yaitu dimusuhi oleh sahabat-sahabatnya di Galatia. Dia berkata, Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? Dengan kata lain, meminjam bahasa kita, Paulus hendak berkata, Aku menegur kamu karena aku sahabatmu, bukan musuhmu; aku menyayangimu, bukan membencimu; aku ingin kamu bertambah baik, bukan menjatuhkanmu. Di PL kita juga bisa melihat teladan seorang sahabat sejati di dalam diri Natan. Tidak tanggung-tanggung, yang dia tegur adalah Daud. Kita semua tahu, saat itu Daud sudah menjabat sebagai raja. Risiko menegur Daud bisa jadi adalah kematian. Tetapi, Natan tidak peduli itu. Dia meyakini panggilan Tuhan untuk berlaku sebagai sahabat sejati Daud, yaitu dengan menegurnya. Tegurannya tegas, Engkaulah orang itu! Perkataan Natan bagi Daud bagai petir di siang bolong yang langsung menyambar dirinya. Menariknya, Daud menerima perkataan tersebut. Daud mengakui kesalahannya, menyesal dan bertobat. Mungkin mudah untuk memuji sahabat kita, tetapi tidak mudah untuk mengatakan apa yang salah dalam dirinya. Sulit untuk memberitahu bahwa dia telah berbicara atau berbuat salah. Sering kali kita mau menjaga perasaannya dan hubungan persahabatan itu. Namun, jika sikap kita seperti itu, sama saja kita sedang membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang dalam. Mari kita minta hikmat dan keberanian kepada Tuhan untuk bisa mengatakan apa yang sebenarnya. Bisa jadi perkataan kita akan menyakitkannya, tetapi itu hanya sementara. Pada akhirnya apa yang kita katakan akan membawa kebaikan bagi sahabat kita. DOA Tuhan, beriku keberanian dan hikmat untuk mengatakan apa yang sebenarnya pada sahabatku. Aku ingin dia tahu apa yang salah dan apa yang benar. Dalam nama Yesus. Amin


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here