welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Empati di Tengah Kesulitan

Amsal 19:17; Markus 10:46-52 Salah satu kejadian yang tidak menyenangkan bagi pengendara sepeda motor adalah ketika bannya bocor. Lebih tidak menyenangkan lagi kalau bocornya pas pagi hari saat hendak pergi ke kantor. Bukan hanya karena harus keluar uang tambal ban, tetapi juga harus menuntun sepeda motor untuk mencari tukang tambal ban yang sudah buka di pagi itu. Itulah yang aku alami. Namun, ternyata ada maksud Tuhan yang indah di balik kejadian itu. Di samping kesabaran, rasa empatiku pun diuji saat itu. Setelah menemukan tempat tambal ban, aku pun lega. Sementara ban motorku ditambal, aku duduk sambil memerhatikan kesibukan di jalan itu. Tanpa sengaja, mataku menatap seorang gadis yang terlihat bingung. Rupanya dia gadis desa yang baru turun dari bis malam. Kebingungannya ini bisa menjadi makanan empuk bagi orang-orang yang berniat jahat terhadapnya. Aku pun menemuinya. Mbak dari mana dan mau ke mana? tanyaku. Aku dari Kebumen. Sebenarnya aku disuruh turun di terminal dan nanti dari situ dijemput pamanku, jawabnya. Mengapa bisa turun di sini, terminal kan sudah lewat? tanyaku lagi. Seperti hendak menangis, gadis desa itu pun menjelaskan bahwa tadi sopirnya sedang marah sehingga tidak menghiraukannya. Aku pun tidak tega. Untung dia punya nomor HP pamannya yang bisa dihubungi. Tanpa menunda-nunda, aku pun menelepon pamannya dan menjelaskan posisi gadis itu. Sepuluh menit kemudian pamannya datang dan menjemputnya. Baru saja selesai kejadian itu, tiba-tiba tukang tambal ban berkata, Mas, masak tadi jam lima, sementara aku nambal ban, HPku diambil orang. Hal itu memang memungkinkan karena dia sendirian, sementara HP itu ditinggal di bedeng kecil yang cukup terbuka. Apalagi jam lima sudah banyak orang di tempat itu. Aku pun kasihan. Namun, aku hanya bisa membantu menelepon ke HP itu. Tidak ada jawaban. Akhirnya aku kirim pesan sambil menyisipkan wejangan rohani. Belum ada hasil, tetapi paling tidak ada harapan. Kisah ini mungkin sederhana, ujiannya pun tidak terlalu berat. Tetapi, justru seringkali manusia gagal melewati ujian seperti itu. Sebagai contoh adalah sikap orang-orang yang mengikuti Yesus terhadap Bartimeus. Boro-boro berempati, mereka malah menegur Bartimeus ketika dia berseru kepada Yesus. Sikap sebaliknya ditunjukkan oleh Yesus. Karena empati itulah maka Yesus mau menemui Bartimeus dan menyembuhkannya. Yesus memang teladan di dalam masalah berempati. Bahkan ketika berada di kayu salib pun, Yesus tetap berempati kepada salah seorang penjahat yang disalib bersama dengan Dia. Sebenarnya, hal-hal kecil yang kita lakukan dalam rangka berempati kepada orang lain merupakan latihan bagi rasa belas kasihan kita. Jika kita lulus dalam hal kecil, maka kita akan siap untuk berempati kepada mereka yang mempunyai masalah berat. Dan di balik semua ujian berempati itu, ada keuntungan bagi pembentukan karakter kita. DOA Tuhan, bantu aku untuk tetap berempati kepada orang lain sekalipun saat itu aku sedang menghadapi masalah. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin. Kata-Kata Bijak Hal yang luar biasa adalah mau memerhatikan orang lain saat dirinya sendiri membutuhkan perhatian.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here