welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Bahagia Di Dunia Dan Di Sorga

Matius 6:33; Kolose 3:2

Pikirkan untuk apa kita hidup? Mari simak skenario berikut ini dan andaikan itu hidup kita.
Mulai dari sebuah sekolah yang menanamkan ilmu, etika, dan budi pekerti. Waktu bermain yang mulai banyak tersita untuk belajar, seiring tumbuh kembang kita. Hingga akhirnya mendapatkan gelar sarjana. Kemudian lanjut dengan berada pada antrean pencari kerja. Mengirim lamaran, mengikuti sejumlah tes, hingga akhirnya berhasil masuk dalam daftar karyawan di sebuah perusahaan. Kita merintis karier dengan masuk dalam dunia kerja yang menuntut profesionalisme. Terbenam dalam segudang pekerjaan yang membuat kita jadi gila kerja, dan tidak jarang membuat kita stres. Namun ada hasil yang didapatkan dari kerja keras itu, kita populer, berkuasa, berjaya, dan kaya. Kemudian seiring berjalannya waktu, ada hal lain yang menjadi target baru kita. Kita bertemu pasangan hidup, menikah, memiliki anak dan mengurus anak, sehingga kegiatan kita menjadi bertambah. Kita pun terus mendaki ke tempat yang lebih tinggi demi kesejahteraan keluarga baru kita. Kita memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan menata karier yang lebih mapan dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kita pun menjadi gilang-gemilang. Di mana pun kita berada banyak orang menyukai keberadaan kita. Namun sepertinya, waktunya terlalu singkat untuk memenangkan pertandingan secara sempurna, karena hidup kita masih berlanjut. Setelahnya, akan ada yang merasa kecewa pada kita, pekerjaan kita menemui banyak kendala, kita jatuh ke dalam pencobaan, anak kita sakit parah, istri atau suami kita terjebak dalam perselingkuhan, uang tabungan habis, hutang di mana-mana, dlsb. Pikiran kita menjadi kacau, hidup kita pun serasa hancur. Apa yang kita bangun, runtuh secara perlahan. Satu per satu orang di sekitar pergi meninggalkan kita. Hidup tidak lagi berarti. Dan waktu menjadi terasa sangat lama berputar. Semua nampak suram dan gelap. Satu-satunya keinginan adalah menunggu waktu Tuhan memanggil.
Kita tentu tidak mau memiliki kehidupan seperti skenario di atas bukan? Yang mengawali secara sempurna, namun mengakhiri pertandingan kehidupan secara menyedihkan. Untuk itu kita harus memiliki orientasi hidup yang benar. Hidup kita tidak hanya di dunia, tetapi kita juga akan hidup di alam baka, entah itu di Sorga atau Neraka. Karenanya, kita jangan hanya terus memikirkan bagaimana kita hidup dengan baik di dunia ini, tetapi lebih daripada itu mari pikirkan bagaimana cara agar kita bisa hidup dengan baik nantinya setelah perjalanan kita di dunia ini selesai. Sebagai orang percaya, Kristus harus menjadi orientasi hidup kita, Kerajaan Sorga harus menjadi tujuan hidup (Mat 6:33), dan perkara-perkara sorgawi harus menjadi bagian dari kehidupan kita. Dengan itu maka hidup kita selama di dunia akan baik, bahagia, dan berguna bagi siapa saja. Dan akhirnya kita pun bisa menikmati kehidupan kekal di Sorga kelak, yang Tuhan janjikan kepada kita yang setia hingga akhir.

DOA
Bapa, ampuni aku karena selama ini tidak memprioritaskanMu. Mulai hari ini, aku ingin belajar menempatkanmu di atas segalanya. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here