Roma 12:1-2; 1 Korintus 9:25
Akhir-akhir ini pengguna media sosial semakin ber-tambah pesat, khususnya di Indonesia. Keberadaan media sosial sebagai hasil dari revolusi teknologi informasi dan komunikasi, tentunya memiliki dampak positif sekaligus negatif yang harus diwaspadai. Hal menguntungkan dari media sosial, selain mendapatkan informasi, kita juga bisa bertemu dengan orang-orang baru maupun yang lama terpisah, di belahan bumi yang lainnya. Dan risiko yang harus siap dihadapi, seperti penipuan, penculikan yang mungkin berakhir pada pembunuhan, cinta dunia maya yang mungkin berakhir pada pemerkosaan, cyberbullying yang mungkin berakhir pada kematian, atau perselingkuhan yang mungkin akan berakhir pada perceraian.
Sebuah survei menyatakan bahwa perceraian akibat media sosial meningkat sebanyak 80%, seperti yang dilansir oleh Yourtango.com. Salah seorang pengacara di bidang perceraian, Victor A. Garnice mengatakan, bahwa banyak suami atau istri membawa bukti status dan foto di media sosial sebagai penguat keinginan untuk bercerai. Bahkan, perceraian harus terjadi diakibatkan suami atau istri dianggap telah lalai melakukan kewajibannya karena lebih memilih berlama-lama meng-update media sosial.
Salah seorang sahabat saya pernah hampir menghancurkan bahtera rumah tangganya. Bisa dikatakan bahwa dia adalah salah satu pengguna setia media sosial. Di satu kesempatan, ia disapa oleh mantan pacar semasa SMA dahulu. Mulanya, tidak ada sesuatu yang spesial, mereka berbincang layaknya teman lama yang telah lama tak bersua. Perbincangan itu pun berlanjut dengan pertemuan. Mulai dari pertemuan yang jarang, hingga pertemuan yang hampir rutin. Siapa sangka, hubungan itu pun berlanjut ke arah yang lebih jauh. Sebagai seorang ibu rumah tangga, waktu dan perhatiannya kepada keluarga pun mulai terbagi. Sampai akhirnya, perselingkuhannya tersebut tercium juga oleh sang suami. Untungnya, masih ada kesempatan kedua yang diberikan oleh sang suami.
Semakin kita intens memakai media sosial, semakin banyak celah bagi dosa untuk menggoda kita. Mungkin saat ini kita berkata, Tenang, saya bisa menjaga diri! Jangan lupa akan perkataan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya ketika itu, bahwa roh memang penurut tetapi daging lemah. Jadi, jangan terlalu percaya diri mengatakan tidak kepada dosa, jika kita tidak bekerja sama dengan Roh Kudus untuk memeranginya. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sehebat apa pun kita menguasai diri untuk tidak jatuh ke dalam dosa, suatu saat kita pasti akan terjatuh juga bila kita tidak berjaga-jaga dan berdoa. Kita boleh saja menggunakan media sosial. Tetapi perlu diingat, hubungan antara kita dengan Tuhan harus lebih intensif daripada intensnya penggunaan kita akan media sosial. Dengan demikian, barulah kita mampu berkata tidak kepada dosa.
DOA
Tuhan, aku ingin selalu terhubung denganMu, agar kuketahui tujuanMu bagiku. Ajarku agar lebih bijaksana lagi menggunakan teknologi yang ada. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
back
Best viewed in Mozilla Firefox 3 or greater


Buku Keluarga Kristen
Buku Keuangan
Typologi Jilid 2
jwj
jsj
whay
banner 3
banner4