welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Berkaca Pada PenderitaanNya

Lukas 22:19 Pada tahun 2007, Amanda Knox bersama dengan mantan kekasihnya, Rafflaele Sollecito dituduh melakukan pembunuhan terhadap teman sekamarnya, Meredith Kercher. Di tahun 2009, Amanda dijatuhi hukuman 26 tahun penjara dan Sollecito 25 tahun penjara. Namun, pengadilan mengkaji ulang kasus itu. Belum lama ini, seluruh siaran televisi Amerika menayangkan proses persidangan kembali perkara tersebut untuk penentuan keputusan tentang keterlibatan Amanda dan mantan kekasihnya itu. Keputusan akhir yang dibacakan tanggal 3 Oktober 2011, menyebutkan bahwa Amanda dan Sollecito dinyatakan tidak bersalah. Keputusan hakim yang sangat mengejutkan warga Italia tersebut, khususnya keluarga korban, sangat mengharukan perasaan Amanda yang ditandai dengan luapan tangis kebahagiaan. Kisah Amanda sangat berlawanan dengan kisah penghakiman yang dilontarkan kepada Yesus. Amanda lepas dari kursi penderitaan, namun Yesus menempati kursi kematian, yang sesungguhnya bukanlah tempat yang pantas bagiNya. KematianNya menjadi korban pengganti dari kita yang seharusnya mengalami kematian tersebut. Oleh sebab itu, pada waktu perjamuan malam terakhir, Yesus mengatakan, Aku sangat rindu makan Paskah ini bersamasama dengan kamu, sebelum Aku menderita ... Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. Dua kata kunci yang ditekankan Yesus, yaitu penderitaan yang sedang menanti dan imbauan untuk menjadikan penderitaanNya sebagai tolok ukur atas penderitaan yang akan dialami para muridNya. Dengan kata lain, Yesus berkata, Jikalau engkau menderita, berkacalah pada penderitaan yang telah Kualami. Salib adalah pembelajaran terbaik tentang hakikat sesungguhnya dalam mempraktekkan kekristenan kita. Yesus menyiratkan kebenaran ini kala Ia berkata, Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. Renungkanlah rute perjalanan Yesus memasuki Taman Getsemani sampai kepada teriakan Eli, Eli lama sabakhtani untuk membuat kita berkaca pada penderitaanNya. Bukankah kita dapat melihat kekejaman yang dunia berikan kepada kita, telah lebih dahulu ditimpakan kepada Yesus? Salib adalah lambang kesempurnaan penderitaan, namun sekaligus salib menjadi lambang kesempurnaan kemenangan. Derasnya air mata yang berderai tidak akan menghantar kita ke jalan yang menjauhiNya. Fitnah yang kita terima tidak akan menghadirkan luka hati. Penderitaan fisik yang kita alami membuat kita lebih memancarkan mata air kasih dan pengampunan. Dan ketika tikaman tajam yang diarahkan ke ulu hati tidak membangkitkan kedagingan karena kita telah menjalani kematian secara daging. Berkacalah pada penderitaanNya, maka luka hati akan tersembuhkan dan kepedihan akan terhiburkan. Lakukanlah semua ini dengan berkilas balik pada penderitaanNya. DOA Yesus, kala mengalami penderitaan biarlah aku mengingat dan berkaca pada penderitaanMu sehingga aku tidak terdampar pada kehampaan iman. Dalam nama Yesus. Amin.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here