welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Sang Pemelihara Hidup Kita

Kesaksian Dian Saptenno

Nama saya Dian Kathrin Claudya Saptenno. Saya lahir tanggal 15 November 1993. Saya memiliki mimpi yang besar. Untuk meraihnya saya pun berusaha untuk lebih kreatif dari segala sesuatu yang dipercayakan kepada saya. Saya lahir dari keluarga yang sudah Kristen. Kakek saya adalah seorang pendeta, demikian juga dengan mama saya, dan om saya. Namun, ketika Tuhan menyatakan panggilanNya kepada saya, dan saya mengambil keputusan untuk mengikuti panggilan itu, saya ditentang oleh orang-orang yang saya pikir akan sangat mendukung saya, yaitu kakek, mama, dan om saya yang notabene status mereka adalah seorang pendeta. Mereka mengatakan, "Kamu akan makan apa jika menjadi pendeta?" Saya menjawab, "Jika Tuhan yang memanggil saya, maka Ia akan bertanggung jawab atas hidup saya apa pun situasinya!" Singkat cerita, saya masuk sekolah Alkitab di Jakarta. Banyak rintangan yang harus saya hadapi saat itu, salah satunya adalah kondisi daya tahan tubuh saya yang lemah. Saya sering sakit. Dengan kondisi seperti itu, saya tahu Tuhan sedang mengajar saya untuk menjadi seorang hamba Tuhan yang mandiri.
Saya memiliki banyak mimpi yang besar, salah satunya adalah ingin melayani Tuhan dari dalam negeri sampai ke luar negeri. Banyak teman-teman saya yang menertawakan mimpi saya itu. Namun saya ingin membuktikan kepada mereka, bahwa apa yang saya impikan itu suatu hari akan terwujud! Alhasil, Tuhan telah mewujudkan mimpi-mimpi saya satu per satu!
Awalnya saya praktek di Papua melayani anak-anak Sekolah Minggu yang ekonomi keluarganya rendah. Namun, saya tetap melayani dengan perasaan bahagia. Sampai suatu ketika, Ps. Hendrik A. Sarioa yang saat itu adalah mentor saya, sepulang dari mission trip-nya menawarkan kepada saya untuk pergi melayani di Tiongkok. Dengan cepat saya mengiyakan hal tersebut dan akhirnya pergi juga ke Tiongkok untuk melayani. Setelah satu bulan saya melayani di Tiongkok, mentor saya yang juga adalah sponsor saya meninggal dunia. Hal itu menjadi suatu pukulan yang cukup mengejutkan saya. Saya hampir tidak dapat berkata-kata dan hanya bisa menangis saat itu.
Namun perlahan-lahan saya mulai mengerti bahwa saya sedang diajar oleh Tuhan untuk benar-benar bergantung dan berharap penuh kepadaNya. Di usia saya yang masih terbilang muda, saya bersyukur karena Tuhan masih memercayakan pelayanan yang cukup luas kepada saya.
Dalam pelayanan saya di Tiongkok, saya melayani orang-orang lokal yang ada di tempat itu yang umumnya sudah lansia. Namun ada beberapa orang juga yang masih muda. Sesekali saya melayani mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sekolah di Tiongkok. Saya juga pelayanan ke Modern Hospital Guangzhou, untuk melayani orang-orang Indonesia yang menderita sakit kanker, tumor, stroke, dan penyakit lainnya yang cukup serius. Ketika melayani mereka, saya mendapat sukacita yang besar karena saya bisa mendoakan mereka, bahkan memperkenalkan kasih Tuhan dan janji kesembuhan dari Tuhan untuk mereka.
Sukacita terbesar dalam pelayanan saya adalah jika saya dapat menyampaikan Kabar Baik dari Kristus kepada banyak orang! Mari kita tetap bersukacita saat pelayanan, apa pun situasinya, juga tetap berharap penuh kepada Tuhan Yesus Kristus karena Dialah yang akan memelihara hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here