welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Setia Sampai Akhir

Kesaksian Bpk. Boaz Djaha, Sumba Barat (2)

Namun, semuanya itu ada syaratnya, yaitu saya harus kembali ke keyakinan saya yang semula. Saat itu iman saya sungguh terguncang luar biasa. Saya merasa bahwa ujian ini sungguh berat untuk saya. Selama dua minggu saya bergumul mengenai hal ini. Saya bersyukur kepada Tuhan, bahwa Ia telah memberikan saya seorang istri yang luar biasa. Ia tidak pernah mengeluh, ia sungguh tegar menghadapi semua masalah. Bahkan, ia mendorong saya untuk tetap setia kepada Tuhan. Saya sungguh merasakan topangan yang begitu luar biasa dari istri saya. Ia berusaha mencari jalan keluar untuk menyelesaikan semua beban hutang dan juga berusaha untuk membiayai pendidikan anak-anak. Semua ini ia lakukan agar saya tidak meninggalkan Tuhan. Sejak saat itu, saya mengambil keputusan untuk tidak lagi meragukan Tuhan, kembali berpegang kepada firmanNya yang hidup, serta mengikut Tuhan, meski harus menderita. Dan pada saat itu juga beberapa hamba Tuhan tergerak melayani kami sekeluarga. Mereka mendoakan saya dan meneguhkan kembali komitmen saya kepada Tuhan Yesus. Akhirnya, kami sekeluarga berkomitmen untuk tetap bertekun dalam doa, setia dalam beribadah, dan tekun dalam pelayanan. Istri saya juga terus mendorong agar saya beserta anak-anak tetap setia membaca firman Tuhan, berdoa, juga memuji dan menyembah Tuhan. Kami pun membentuk persekutuan doa dan melayani Tuhan.
Ternyata tantangan hidup saya belum berakhir. Suatu hari, pukul 02.00 pagi, terjadilah keributan karena kedua tetangga kami bertengkar. Keributan ini dipicu oleh salah satu dari mereka yang membuat gaduh di tengah malam dengan menggunakan toa atau pengeras suara. Hal ini sangat mengganggu ketenangan warga dan memicu kemarahan tetangga kami yang satunya, sehingga terjadilah pertengkaran itu. Berniat untuk melerai mereka, di luar dugaan, tiba-tiba tetangga kami yang merasa terganggu itu justru melempar toa ke arah pelipis saya, lalu melempar batu mengenai tulang rusuk saya. Saya mengalami cedera yang sangat parah. Pukul 05.00 pagi saya dibawa ke rumah sakit untuk diobati, tetapi tidak rawat inap. Namun, keadaan saya belum membaik. Dua minggu kemudian, saya kembali dibawa ke rumah sakit dan harus rawat inap. Beberapa kali saya muntah darah dan sesak nafas. Setelah beberapa hari menginap, saya diperbolehkan pulang. Saya tidak memiliki dendam kepada orang itu. Bahkan, ketika pihak berwenang datang menawarkan kepada saya untuk memperkarakan masalah ini ke meja hijau, saya menolak. Dengan hati yang tulus dan penuh kasih, kami sekeluarga memaafkannya. Sebenarnya sampai saat itu saya masih sering mengalami sakit yang luar biasa, namun itu tidak menghalangi saya untuk tetap berdoa dan melayani Tuhan. Karena, sesungguhnya ketika kita mengalami tantangan hidup, di situlah iman kita dibentuk dan terus bertumbuh di dalam Tuhan.
Demikianlah perjalanan hidup suami saya! Akibat lemparan batu itu, ia pun akhirnya mengakhiri perjuangan imannya di dunia ini. Dan saya menyaksikan semasa hidupnya ia tetap setia terhadap firman Tuhan, berdoa, dan memuji Tuhan, bahkan sampai ia mengembuskan nafasnya yang terakhir. Kiranya kesaksian ini menguatkan iman kita dan mendorong kita untuk tetap setia sampai akhir. Tuhan Yesus memberkati!


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here