welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Saatnya Mengampuni

Ibrani 12:14a; Mikha 7:19; Filipi 3:13 Namaku adalah Isabel, seorang yang hidup di dalam tekanan selama puluhan tahun. Ketika usiaku tujuh tahun, aku dijual oleh ibuku menjadi budak ke salah satu keluarga Taiwan. Entah apa yang ada di dalam pikiran ibuku sehingga ia tega melakukannya. Hidup sebagai budak sungguh mengerikan karena majikan lebih sering memperlakukan budaknya dengan buruk. Tiap hari harus bekerja keras, termasuk memasak dan mencuci, namun aku hanya diperbolehkan tidur di garasi beralaskan kardus. Tidak jarang aku dipukuli oleh majikanku. Hari demi hari berlalu, seolah-olah hidupku hanya dipenuhi kesuraman. Selama di sana, aku sering merasa sedih. Sebagai remaja, aku juga ingin menikmati indahnya masa remaja sebagaimana yang dirasakan oleh remaja lainnya. Di malam hari, aku sering merindukan ibuku dan berharap bisa bertemu dengannya, namun aku tidak tahu caranya. Tak tebersit sedikit pun kebencian di hatiku kepada ibuku. Aku pun berusaha mencari cara untuk bisa keluar dari kehidupan mencekam itu. Tekad yang kuat itu memunculkan keberanian untuk melarikan diri. Aku pun berhasil melarikan diri dan hidup merdeka setelah dua puluh tahun hidup sebagai budak. Kisahku lantas diberitakan oleh media ternama, CNN, dan menjadi perhatian publik. Saat wawancara, aku menyampaikan niatku untuk bertemu ibuku, Ibu, aku menyayangimu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku pun pulang ke kampung halaman untuk pertama kalinya dalam 20 tahun. Saat bersua ibuku, dengan besar hati aku mengampuninya. Mimpi puluhan tahun itu pun akhirnya terwujud. Kisah pertemuan mengharukan seperti yang diberitakan oleh Daily Mail 20 Januari 2012 itu ditayangkan oleh CNN. Di situ terlihat Isabel sangat bahagia bisa bertemu dengan ibunya. Raut wajahnya tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Dia telah mengampuni ibunya dan sang ibu juga terlihat bahagia. Tidak menutup kemungkinan jika orang tua, saudara, dan sahabat kita bisa melakukan kesalahan yang menimbulkan luka hati yang sangat dalam. Tetapi, dalam keadaan seperti itu pun kita dituntut untuk mewujudnyatakan kasih dengan cara menerima dan mengampuni mereka yang telah melakukan kesalahan kepada kita. Pusat perhatian kita bukan lagi kepada kesalahannya, tetapi kepada pribadinya yang membutuhkan pengampunan. Tuhan pun lebih dulu melakukan hal itu kepada kita, di mana Dia telah mengampuni kita dan membuang kesalahan kita ke tubir laut. Perlu diingat bahwa Tuhan sanggup mengubah kesuraman akibat kesalahan orang lain kepada kita menjadi sesuatu yang baik. Syaratnya, kita mau mengampuni orang tersebut dan tetap bersyukur atas keadaan itu. Jadi, lebih beruntung kalau kita mengampuni daripada memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain dan memendam dendam. Mari kita teladani Yusuf. Katanya, Memang kamu telah merekarekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan. DOA Tuhan, mampukan aku untuk mengampuni orang yang bersalah kepadaku dan tidak lagi fokus pada kesalahannya. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here