welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Kaya Dan Miskin Yang Benar

Amsal 30:8-9

D i Alkitab, kekayaan dipandang sebagai sesuatu yang netral, tidak dipuji tetapi juga tidak dicela. Artinya, benar-tidaknya suatu kekayaan tergantung pada sikap seseorang terhadapnya, apakah ia menjadi orang benar atau menjadi orang yang tidak benar dengan kekayaannya itu. Jika seseorang bergantung pada kekayaannya melebihi ketergantungannya kepada Tuhan, maka pada saat itulah suatu kekayaan menjadi tidak benar. Sebaliknya, jika seseorang dapat mengendalikan kekayaan itu dan memanfaatkannya untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama, maka pada saat itulah kekayaaan tersebut menjadi benar. Jadi, kekayaan itu sendiri tidaklah salah, yang salah adalah sikap orang yang bergantung kepada kekayaannya. Alkitab tidak pernah mengecam kekayaan itu sendiri, tetapi mengecam sikap hati orang yang bergantung pada kekayaannya. Sejauh seseorang tidak terikat pada kekayaannya, Alkitab tidak pernah mengecamnya.
Ada banyak tokoh di Alkitab yang kaya. Sebagian mempergunakan kekayaan tersebut dengan baik, artinya tidak membuat mereka jauh dari Tuhan. Sebagian lagi adalah sebaliknya, mereka justru jauh dari Tuhan karena kekayaannya. Contoh tokoh Alkitab yang kaya namun tidak membuat mereka jauh dari Tuhan adalah Abraham, Ishak, Yakub, dan Ayub. Para bapa leluhur orang Israel, yakni Abraham, Ishak, dan Yakub, diberkati oleh Tuhan sehingga menjadi orang-orang yang kaya di tengah masyarakat sezaman mereka. Tetapi, hati mereka tetap teguh berpaut kepada Tuhan. Demikian juga dengan Ayub, sekalipun ia adalah orang kaya, ia tidak bergantung pada kekayaannya. Terbukti, ketika ia dicobai dengan sangat berat dengan hilangnya seluruh harta kekayaannya dalam sekejap, ia tidak meninggalkan Tuhan.
Namun banyak juga tokoh Alkitab yang kaya sehingga membuat mereka menjadi jauh dari Tuhan atau tidak datang kepada Tuhan. Contohnya adalah Hizkia, raja Yehuda. Secara keseluruhan, Hizkia termasuk orang yang benar di mata Tuhan, karena ia tidak menyembah berhala dan tetap berpaut kepada Tuhan. Namun ia tidak benar dalam hal kekayaan. Ketika dia diberkati Tuhan dengan kekayaan dan kerajaan yang kokoh, ia justru memamerkan kekayaannya itu kepada orang-orang Babel (2 Raj 20:12-18).
Bukan hanya kekayaan, kemiskinan pun bisa membuat seseorang jauh dari Tuhan. Menarik menyimak doa Agur bin Yake. Ia memohon kepada Tuhan agar tidak diberikan kekayaan maupun kemiskinan. Sebab, jika ia kaya ia akan menyombongkan diri terhadap Tuhan, dan ketika ia miskin ia akan mengutuki Tuhan. Agur bin Yake menyadari bahwa banyak orang yang bersikap tidak benar kepada Tuhan karena kekayaan mereka, dan karena kemiskinan mereka! Namun makna doa Agur bin Yake adalah agar kita tetap cinta Tuhan, baik ketika masih miskin maupun ketika sudah kaya.

DOA
Bapa sorgawi, ajar aku tetap takut dan setia kepadaMu, baik ketika masih miskin maupun sesudah kaya. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here