welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Fear And Furious

Setiap orang pasti pernah merasa takut. Bahkan beberapa orang yang lain memiliki rasa takut yang berlebihan pada suatu hal yang biasa disebut dengan phobia. Beberapa jenis phobia yang ada diantaranya adalah achluophobia, yaitu takut akan kegelapan; acrophobia, yaitu takut akan ketinggian; insectophobia, yaitu takut pada serangga; snakephobia, yaitu takut pada ular; claustrophobia, yaitu takut berada pada tempat yang sempit, dan lain sebagainya.
Sebagai manusia, sama seperti manusia lainnya, saya pun memiliki ketakutan. Namun apakah ketakutan jenis ini termasuk phobia atau hanya ketakutan biasa, saya pun tidak berani memastikan. Tetapi yang jelas, ketakutan ini membuat saya tidak nyaman, gelisah, susah tidur, dan berbagai macam perasaan tidak mengenakkan lainnya.
Setiap kali ada orang-orang yang punya hubungan dekat dengan saya, seperti orang tua, suami, dan adik saya yang bepergian ke luar kota ataupun ke luar negeri, baik itu dengan mobil, kereta ataupun pesawat, saya selalu merasa cemas. Saya takut dan khawatir kalau-kalau mereka tidak bisa kembali dengan selamat. Keadaan ini begitu menakutkan buat saya, karena lebih mudah bagi saya untuk berpikir yang negatif dibanding yang positif pada saat kejadian itu terjadi.
Salah satu contoh yang paling saya ingat adalah peristiwa beberapa bulan yang lalu, saat suami saya harus bepergian ke luar negeri selama sembilan hari. Saya selalu takut kalau-kalau suami saya tidak bisa kembali lagi. Suami saya seharusnya dijadwalkan pulang hari Kamis, 14 Mei yang lalu. Tetapi karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan saat itu, penerbangannya pun ditunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Bisa dibayangkan bagaimana bertambah campur aduknya perasaan saya saat itu. Ditambah lagi ada masalah yang lain, beberapa hari sebelum suami saya pulang, anak saya yang kedua sakit demam, berkali-kali dia terus menyebut-nyebut dan memanggil papanya bahkan dalam keadaan tidur pun demikian. Keadaan menjadi bertambah emosional, karena satu malam sebelum dia pulang, kami sempat berselisih paham karena hal sepele. Pada saat saya tahu penerbangannya ditunda, bertambah panik dan takutnya saya, apalagi dengan alasan cuaca buruk! Mulailah terbayang-bayang peristiwa jatuhnya pesawat terbang beberapa waktu yang lalu seperti yang diberitakan di televisi.
Saya kehilangan kontak dengan suami saya selama kurang lebih enam jam, selama itu pula saya berusaha menenangkan diri dan berpikir serta berdoa supaya semuanya baik-baik saja. Alhasil, saya pun bisa bernapas lega dan berkata, "Puji Tuhan", saat saya mendapat kabar dari suami saya. Walaupun tertunda selama hampir lima jam dan terpaksa harus menghabiskan satu malam lagi, tetapi dia bisa pulang dengan selamat.
Dari kejadian ini, saya belajar bahwa sumber pertolongan kita asalnya dari Tuhan saja dan sejak saat itu, saya tidak lagi dikuasai oleh phobia. Kalaupun tiba-tiba phobia itu datang menyerang saya, maka saya pun dengan mudah bisa mengatasinya, karena saya sudah bisa berserah penuh kepada Tuhan, yang membuat hati saya tenang. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita sebagai anak-anak Tuhan belajar semakin mendekatkan diri lagi kepada Tuhan. Mzm 62:2 berkata, "Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripadaNyalah keselamatanku." Soli Deo Gloria!


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here