welcome visitor
Join us

categories
artikel -

Privasi Suami - Istri, Perlukah?

Forum Tanya-Jawab: NN, Jakarta

Tanya: Saya sering mendengar saran bahwa da-lam hubungan suami-istri seharusnya privasi tidak boleh dilanggar dan harus saling menghargai privasi masing-masing. Pertanyaannya, adakah Alkitab mengajarkan privasi suami-istri? Perlukah privasi dalam keluarga, khususnya suami-istri?
Jawab: Privasi ialah kebebasan, keleluasaan pribadi, atau kerahasiaan pribadi. Pada umumnya orang beranggapan bahwa keluarga adalah tempat yang paling baik dan efektif dalam menerapkan privasi, sebab akan tercipta saling menghargai dan keharmonisan. Suami maupun istri, masing-masing memiliki wilayah, ranah, atau batasan yang tidak boleh dilanggar oleh pasangannya. Ranah pribadi ini, misalnya tidak membuka HP, laptop, dompet, tas, buku harian, akun sosmed pasangannya, dsbnya. Jika melewati batasan tersebut, dianggap tidak menghargai atau melanggar privasi. Tidak heran banyak terjadi perceraian karena alasan tidak menghargai privasi pasangannya. Bagaimana dengan pandangan Alkitab?
Dalam perspektif Alkitab, pasangan yang telah menikah menjadi satu daging (Mat 19:5-6; Mrk 10:8-9). Seorang pria akan meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya, menunjuk kepada tanggung jawab baru yang diemban oleh sang pria sebagai kepala dalam membangun keluarga yang memuliakan Tuhan dan harmonis. Pernikahan bukan saja menyatukan kedua insan dalam hubungan seks, tetapi juga secara emosi, rohani, intelek, keuangan, dan dalam hal apa pun, pasangan tersebut telah menjadi satu. Jangankan dalam kepemilikan harta, uang, atau lainnya, bahkan dalam aspek seksual, tubuhnya sudah menjadi kepunyaan pasangannya (1 Kor 7:4-5). Uang bukan lagi milik "saya" tetapi milik "kami". Segala sesuatunya sudah menjadi milik bersama dan seharusnya saling bekerja sama, sepenanggungan, seiman, sehati, atau saling menopang, sehingga menjadi keluarga yang melayani Tuhan, harmonis, dan menjadi berkat. Masih perlukah privasi?
Bila telah dipersatukan Tuhan dalam pernikahan, seharusnya privasi tidak lagi dibutuhkan, sebab dua insan telah menjadi satu dalam segala aspek, di mana di dalamnya ada saling terbuka, saling cinta, dan saling peduli. Sebaliknya, menerapkan privasi bisa menimbulkan saling curiga, pertengkaran, hingga perceraian. Selain itu, dapat menjadi kesempatan bagi Iblis untuk merusak rumah tangga melalui sikap egois atau oleh kehadiran orang ketiga karena tidak ada pengawasan dari pasangannya. Pasangan kita tidak perlu mengetahui rahasia masa lalu kita secara detail, kesulitan yang kita hadapi dalam pekerjaan secara detail, atau mengetahui secara detail aktivitas keseharian kita, tetapi tidak ada salahnya jika kita menceritakan kepadanya atau tidak ada salahnya jika ia tahu garis besarnya. Keterbukaan juga adalah hal penting. Kita perlu membangun komunikasi yang berlandaskan kejujuran.
Membuat batasan atau privasi dalam keluarga hanya akan menciptakan jarak atau egoisme masing-masing pasangan saja, bukan solusi tepat membangun keluarga bahagia. Justru hal itu dapat menimbulkan inkonsisten atau kontradiktif satu sama lainnya. Sebab, lambat laun muncul rasa curiga dan cemburu. Juga bertentangan dengan Alkitab dalam hal menjadi "satu daging". Membangun keluarga bahagia, rahasianya sederhana, yakni dengan menjadikan Tuhan sebagai nakhoda dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab, di mana istri tunduk pada suami dan suami mengasihi istrinya (Ef 5:22-33). Dengan begitu, terciptalah saling menghargai, menyayangi, dan saling setia. Alkitab adalah solusi tepat dalam membangun keluarga bahagia.


back
more article...
login member
Username
Password
* sign up here